Setiap akhir bulan, bagian rekam medis menyusun laporan rawat inap, dan enam singkatan yang sama selalu muncul: BOR, ALOS, TOI, BTO, GDR, dan NDR. Angkanya dibahas di rapat manajemen, dikirim dalam pelaporan rutin rumah sakit, dan sering dibandingkan dengan bulan lalu. Tetapi ketika satu angka tiba-tiba melonjak, pertanyaan pertama biasanya bukan "kenapa pelayanannya berubah?", melainkan "angka ini dihitung dari mana?".
Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan kedua itu: apa arti tiap indikator, rumusnya, nilai ideal yang lazim dipakai, dan bagaimana membacanya.
Dua istilah yang sering tertukar
Sebelum masuk ke rumus, ada dua istilah yang perlu dibedakan karena dipakai di indikator yang berbeda:
- Hari perawatan dihitung dari sensus harian: berapa pasien yang sedang dirawat setiap hari, dijumlahkan selama satu periode. Pasien yang masuk dan keluar di hari yang sama dihitung satu hari.
- Lama dirawat dihitung per pasien yang sudah keluar: tanggal keluar dikurangi tanggal masuk. Pasien yang masuk dan keluar di hari yang sama juga dihitung satu hari.
BOR dan TOI memakai hari perawatan. ALOS memakai lama dirawat. Artinya, pasien yang masih dirawat di akhir bulan sudah ikut membentuk BOR, tetapi baru masuk ke ALOS setelah ia pulang.
Enam indikator, satu per satu
Nilai ideal di bawah mengacu pada standar Departemen Kesehatan RI (2005) yang sampai sekarang masih umum dipakai. "Pasien keluar" berarti pasien yang keluar hidup maupun meninggal.
BOR (Bed Occupancy Ratio)
Keterisian tempat tidur.
- Rumus: BOR = hari perawatan ÷ (jumlah tempat tidur × jumlah hari dalam periode) × 100%.
- Ideal: 60–85%.
ALOS (Average Length of Stay)
Rata-rata lama dirawat.
- Rumus: ALOS = jumlah lama dirawat pasien keluar ÷ jumlah pasien keluar.
- Ideal: 6–9 hari.
TOI (Turn Over Interval)
Rata-rata tempat tidur kosong di antara dua pasien.
- Rumus: TOI = ((jumlah tempat tidur × jumlah hari) − hari perawatan) ÷ jumlah pasien keluar.
- Ideal: 1–3 hari.
BTO (Bed Turn Over)
Berapa kali satu tempat tidur dipakai.
- Rumus: BTO = jumlah pasien keluar ÷ jumlah tempat tidur.
- Ideal: 40–50 kali setahun, atau sekitar 3,3–4,2 kali sebulan.
GDR (Gross Death Rate)
Angka kematian umum.
- Rumus: GDR = jumlah pasien meninggal ÷ jumlah pasien keluar × 1.000.
- Ideal: tidak lebih dari 45 per 1.000 pasien keluar (45‰).
NDR (Net Death Rate)
Kematian setelah dirawat 48 jam atau lebih.
- Rumus: NDR = jumlah pasien meninggal setelah dirawat ≥ 48 jam ÷ jumlah pasien keluar × 1.000.
- Ideal: tidak lebih dari 25‰.
NDR sengaja hanya menghitung kematian setelah 48 jam, karena kematian dalam dua hari pertama lebih banyak dipengaruhi kondisi pasien saat datang daripada perawatan selama di rumah sakit.
Contoh hitungan
Misalkan sebuah rumah sakit fiktif punya 100 tempat tidur. Dalam satu bulan (30 hari) tercatat:
- hari perawatan: 2.250 hari,
- pasien keluar: 400 orang, dengan total lama dirawat 2.200 hari,
- pasien meninggal: 12 orang, 6 di antaranya setelah dirawat 48 jam atau lebih.
Maka:
- BOR = 2.250 ÷ (100 × 30) × 100% = 75%
- ALOS = 2.200 ÷ 400 = 5,5 hari
- TOI = ((100 × 30) − 2.250) ÷ 400 = 750 ÷ 400 ≈ 1,9 hari
- BTO = 400 ÷ 100 = 4 kali dalam sebulan
- GDR = 12 ÷ 400 × 1.000 = 30‰
- NDR = 6 ÷ 400 × 1.000 = 15‰
Lima indikator berada di rentang ideal. ALOS sedikit di bawah 6 hari — dan itu belum tentu kabar buruk. Bisa jadi pasien memang pulih lebih cepat, atau rumah sakit ini banyak menangani kasus yang memang singkat, seperti persalinan normal atau tindakan sehari.
Dibaca bersama, bukan satu per satu
Satu indikator jarang bercerita banyak kalau dibaca sendirian. Beberapa pola yang sering terlihat:
- BOR tinggi dan TOI sangat rendah berarti tempat tidur hampir tidak pernah kosong. Pasien baru bisa menunggu lama di IGD, dan waktu untuk membersihkan serta menyiapkan tempat tidur menjadi sempit.
- BOR rendah dan TOI tinggi berarti banyak tempat tidur menganggur. Ini bisa menjadi tanda kapasitas berlebih — atau tanda data tempat tidur yang belum diperbarui.
- ALOS panjang dengan BTO rendah bisa mencerminkan kasus yang memang berat, tetapi juga bisa berarti ada hambatan saat pemulangan, misalnya menunggu hasil pemeriksaan atau kelengkapan berkas.
- GDR dan NDR perlu dibaca bersama jenis kasus yang ditangani. Rumah sakit rujukan yang menerima pasien paling berat wajar memiliki angka kematian lebih tinggi daripada rumah sakit yang tidak menerima kasus serupa.
Nilai ideal adalah titik acuan, bukan nilai rapor. Angka di luar rentang adalah alasan untuk bertanya, bukan kesimpulan.
Ketika angkanya meleset karena data
Dari pengalaman kami, lonjakan indikator lebih sering berasal dari pencatatan daripada dari perubahan pelayanan. Beberapa yang paling sering:
- Pasien sudah pulang, tetapi belum dipulangkan di sistem. Hari perawatan terus bertambah, sehingga BOR naik dan TOI turun. Ketika akhirnya dipulangkan, lama dirawatnya ikut memanjang dan ALOS melonjak.
- Jumlah tempat tidur tidak diperbarui. Ruangan yang ditutup sementara atau tempat tidur tambahan yang belum tercatat langsung mengubah BOR, TOI, dan BTO.
- Jam masuk atau jam meninggal tidak lengkap. Tanpa jam yang tepat, kematian sebelum dan sesudah 48 jam tidak bisa dipisahkan, sehingga NDR tidak bisa dihitung dengan benar.
- Pindah ruang tercatat sebagai pasien keluar dan masuk lagi. Jumlah pasien keluar bertambah semu, sehingga ALOS terlihat lebih pendek dan BTO lebih tinggi.
Karena itu, sebelum membahas kenapa sebuah indikator berubah, ada baiknya memastikan dulu data di baliknya sudah benar.
Di HISGrace SIMRS
Di HISGrace SIMRS, keenam indikator ini dihitung langsung dari data pendaftaran, perpindahan kamar, dan pemulangan pasien yang dicatat petugas setiap hari. Setiap angka ditampilkan bersama perbandingan dengan bulan sebelumnya dan rentang idealnya, sehingga yang menyimpang terlihat tanpa perlu menghitung ulang di spreadsheet.
Setiap indikator ditampilkan bersama rentang idealnya.


